Tertawa Sinis
- Details
- Published on Monday, 25 April 2011 05:19
- Written by admin-Dompet Dhuafa
- Hits: 407
Mungkin judul diatas tidak bisa kita bayangkan bagaimana bentuknya? Tapi itulah yang sering terjadi. Suatu sore di sebuah gubuk, beberapa orang sedang membicarakan tentang roti. Awalnya pembicaraan itu berjalan normative saja dengan ba bi bu yang tidak sangat birokratis.
Saat salah seorang bicara bahwa roti yang ada sekarang ini kurang baik, karena mudah lumer terkena air. Padahal yang dibutuhkan saat itu adalah roti yang tidak mudah lumer terkena air. Terjadilah saling sindir diantara mereka, wah kalo hanya roti seperti ini saja saya bisa membuatnya” kata hari dengan bangganya. Idun, dibo dan lainya pun menimpalinya dengan tertawa terbahak-bahak. Tona yang membuat pun hanya bisa terangguk sambil menghela nafas panjang. “kita akan mendapatkan pizza yang harganya lebih dari 30 ribu ton” cakap Mahmud yang kemudian ditimpali “kalo gitu kita buang saja roti yang ini” ujar hari sehingga pecahlah tawa di gubuk itu.
Mungkin kita perlu berkaca dengan kejadian diatas. Banyak diantara kita yang sering melakukannya tanpa sadar kita telah menyakiti hati orang yang dengan tulus ikhlas membantu meringankan kesulitan kita. Dalam kondisi yang kekurangan roti yang mudah lumer terkena air pun akan menjadi pengganjal perut yang luar biasa, namun berbeda jika kesulitan itu lambat laun sudah mulai terkurangi roti yang tadinya bermanfaat akan kalah dengan pizza yang harganya diatas 30 ribu.
Jika kita merunut Al Qur’an surat Al Baqoroh 40 yang artinya “Wahai Bani Israil ! ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan takutlah kepada-Ku saja”. Ayat tersebut menggambarkan bahwa nikmat yang telah diberikan kepada kita wajib kita syukuri, dan janji yang telah terucap ditekankan untuk ditepati. Janji untuk menggunakan roti yang diberikan selama masih ada maka roti itu pun akan tetap mengeyangkan perut lapar. Tragis sebenarnya jika kita menyimak peristiwa tersebut. Seolah-olah Tona yang memberikan roti menjadi pesakitan karena hanya memberikan roti bukan pizza.
Betapa kita tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan Alloh kepada kita. Berbagai ujian yang silih berganti datang pun tak semakin menyadarkan kita, malah kita senang setelah terjadinya ujian yang diberikan Alloh karena ada kenikmatan yang kita dapatkan. Memang bahwa dibalik kesulitan itu ada kemudahan namun, begitu kemudahan itu kita peroleh tergambarlah kualitas pribadi kita. Apakah kita akan seperti qorun yang berkata bahwa semua kekayaan yang dimilikinya merupakan jerih payahnya ataukah akan seperti Nabi Sulaiman A.S yang berkata bahwa semua kekayaan yang dimilikinya merupakan anugerah Alloh SWT.
Tertawa yang sinis, mengejek sudah diingatkan oleh Alloh melalui Qur’an Surat Al Hujurat 11 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …. “. Marilah kita introspeksi diri tentang tertawa sinis itu. Apakah itu perlu? Atau memang kita senang mengolok-olok orang lain? Kemudian apakah kita juga tidak mau bersyukur atas apa yang telah diberikan Alloh maupun orang lain walaupun itu sangat sederhana? Terlalu bebalkah kita sehingga seperti itu? Wallahu a’lam bishowab.



















Artikel 








