Gundahnya Negeriku
- Details
- Published on Monday, 25 April 2011 06:10
- Written by admin-Dompet Dhuafa
- Hits: 402
Suatu hari di tahun 1999, lantai II sebuah SMA di Sleman terasa gaduh. Siang setelah pelajaran Biologi terjadi pembahasan menarik antara tano, nur, singgih. Anak SMA itu menguak masing-masing partai yang mereka yakini paling baik. Tano dengan partai padi kapas, nur partai merah bara dan singgih dengan partai tali dunia. Pemandangan yang tak biasa di kelas IPA yang notabene anak-anak eksak yang saat itu dianggap politik itu milik anak IPS. Namun entah mengapa diskusi yang terdapat saling ejekan dikerumini juga oleh anak kelas itu semua.
Menarik apa yang mereka bincangkan, tentang idealisme masing-masing partai dalam membangun bangsa. Menurut tanto partai yang diikutinya akan membawa kesejahteraan dengan menjunjung tinggi keadilan, nur pun beranggapan bahwa ideology demokrasi akan dapat membawa keberkahan bagi bangsa. Hal senada diungkapkan singgih yang berpedoman pada kebangkitan bangsa yang hakiki.
Tanto sangat bangga dengan partai yang diikutinya karena sejalan dengan karakter pribadinya yang hanif. Metode pendekatan yang partai itu gunakan ternyata cukup membuat perkembangan kadernya melesat. Bahkan partai tersebut mampu masuk ke 10 besar pemilu tahun itu. Tanto yang sering aktif pun akhirnya mendapat tugas yang menurutnya sangat baik yaitu sebagai kaderisasi pemuda kampung. Suatu jabatan yang mengharuskannya berdakwah dan merekrut pemuda kampung.
Berbeda dengan Nur, dia tidak terlalu aktif di partai tersebut karena kondisi disana yang kurang menerima anak muda menjadi kader yang handal. Jadilah ia, hanya ikut ketika kampanye, keliling kota dengan meraungkan motornya sekeras-kerasnya.
Singgih yang berkarakter ustadz itu memang aktif di partainya. Namun lagi-lagi alas an bahwa kaderisasi yang baik menurut partainya itu bertitik tolak pada orang dewasa sehingga perannya pun kurang signifikan.
Setelah 12 tahun berlalu, ketiganya mendapatkan bahwa idealism mereka saat itu kurang pas. Mereka hanya menuruti darah muda yang menggelegak karena sedang menikmati masa kebebasan. Miris rasanya melihat partai-partai sekarang ini, orientasi yang mereka agungkan adalah kekuasaan. Sistem yang dibentuk di dalamnya sangat tergantung dengan orang yang menggerakkanya. Dalam sebuah buku Eri Sudewo, social entrepreneur mengungkapkan harusnya kehadiran seseorang dalam organisasi adalah untuk kepentingan organisasi. Bukan sebaliknya. Namun berapa banyak organisasi justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu (Sudewo, Eri, Manajemen zakat Tinggalkan 15 Tradisi-terapkan 4 Prinsip dasar-Hal 105.Institute Manajemen Zakat:Jakarta)
Saat ini Bangsa Indonesia sedang menunggu kemunculan “Ratu Adil” yang menurut orang Jawa dapat memberikan ketenangan, kemakmuran bangsa dan Negara. Belakangan pun bermunculan orang yang mengaku Ratu Adil. Padahal menurut Prof Damarjadi Supadjar, Aku yang mengaku-aku tidak ada yang selain yang mengaku. Manis madu lebih manis senyuman gadis manis. Jangan suka meng aku-aku karena wujud dari kesombongan diri dikarenakan yang boleh mengaku Aku hanyalah Alloh SWT yang mengenggam jagad seisinya.
Kegelisahan batin yang dialami rakyat yang melihat ketidak adilan hukum dimana-mana, bahkan sipir penjara pun bisa dibeli orang gayus tambunan. Catatan keburukan bangsa ini pun bertambah-tambah dengan century, debt collector vs kreditur, bom, NII, dan masih banyak lagi. Rakyat dibuat muak dengan tingkah elite bangsa dengan plesiran keluar negeri. Sehingga perlu ditanyakan pada punggawa negeri Apakah mereka tau visi bangsa ini? Atau mereka juga bingung apa visi dan misi bangsa ini?.
Ditengah maraknya berita penderitaan, penindasan, ketidak adilan muncul seorang polisi yang dapat menghanyutkan kedalam buaian gerakan chalya-chalya nya. Seolah mejadi oase di tengah padang masalah Briptu Norman Kamaru menjadi buah bibir, mulai dari anak-anak sampai pejabat. Seorang yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi booming di seantero negeri.
Tanto, Nur, Singgih yang saat ini pun mereka tidak setenar Briptu Norman tetap berpegang pada Idealisme yang mereka anut masing-masing. Tanto dengan kehanifan partainya, Nur dengan kegarangan partai yang diikuti dan Singgih dengan gaya ustadz nya yang kental. Mereka berharap ada perubahan di negeri ini. Jangan sampai kegundahan negeri yang sekarang terjadi dialami juga oleh anak cucu mereka. Apa yang bisa kita berikan?




















Artikel 








