
Karir
There are no events at this time![]()
Spotlight
Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan Dompet Dhuafa Jogja menyelenggarakan pawai kampanye zakat pada ahad (8/8) lalu. Pawai berjalan sepanjang jl Maioboro Yogyakarta dan berhenti di kilomenter 0 Yogyakarta. acara ini dihadiri oleh seluruh jejaring Dompet Dhuafa dan lembaga zakat yang tergabung dalam Forum Zakat (FOZ) DIY.
Dalam rangka Pemilihan Bintang radio yang dilaksanakan RRI kali ini dimeriahkan dengan pawai andong bersama mengelilingi Kota Yogyakarta (10/07). Turut dalam kegiatan tersebut andong Dompet Dhuafa Jogja
Dalam rangka persiapan Ramadhan 1431 H DD Jogja melakukan clasical training Fundraiser untuk mengoptimalkan pelayanan DD Jogja kepada masyarakat DIY (21/07). Acara tersebut di isi dengan materi Fiqh Zakat, Teknik Fundraising dan Pemaparan Program Dompet Dhuafa Jogja.
Jalur Mudah Berzakat
Kini kami hadir lebih dekat
Salurkan Zakat, Infaq anda ditempat berikut :
Unit Layanan Zakat Dompet Dhuafa Jogja
1. BMT Nur Ikhlas
Komplek Pertokoan Babarsari No 62 Depok Sleman
2. ULZ Al Ikhlas
Samirono CT VI No 66 A Depok, Sleman
3. BMT Al Ikhlas dan seluruh kantor Cabang
Jl. Prof Dr Yohannes Yogyakarta
Konter Zakat Dompet Dhuafa Jogja
1. Carrefour Ambarukmo Plaza Lt 1
2. Carrefour Maguwoharjo
3. Indogrosir Jl. Magelang
4. Galleria Mall Jl. Jendral Sudirman
Rekening Donasi




| Designed by: |
| Seminar Interaktif: Haruskah LAZ Dibubarkan? |
|
|
|
Tuesday, ۲۷ Dzulhijjah ۱٤۳۰ JAKARTA - Pasca iklan Departemen Agama RI tentang kebijakan pengelolaan zakat satu pintu yang kontroversial itu, Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti mengadakan Seminar Interaktif dengan tema "Haruskah LAZ Dibubarkan?", bertempat di Auditorium Gedung S lantai 8, Kampus Trisakti Grogol. Ratusan peserta yang berasal dari unsur pemerintah, Badan Amil Zakat Daerah, Lembaga Amil Zakat, Mahasiswa dan sejumlah akademisi hadir dalam acara tersebut. Pada sesi I, Acara yang dipandu oleh Alvito Dianova (Presenter Berita TV ONE) tersebut menghadirkan Prof DR Nasrun Harun, MA, Direktur Pemberdayaan Zakat Departemen Agama RI, DR Amelia Fauzia, MA, Peneliti UIN Jakarta dan Doktor Filantropi dari Melbourne University Australia dan Yusuf Wibisono, SE, ME, Pemerhati Ekonomi dan Wakil Kepada Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia. Prof Nasrun mengkritik tema yang diusung "Haruskah LAZ Dibubarkan?" karena dinilai salah persepsi dan terlalu bombastis. Menurutnya, pemerintah tidak ada niat sedikitpun untuk membubarkan LAZ (pengelola zakat non pemerintah) yang sudah ada. LAZ hanya diusulkan untuk hanya mengumpulkan dana zakat dan tidak boleh mengelola. Ditambahkannya, bahwa draf terbaru mengusulkan adanya pemberian sangsi kepada muzakki (orang muslim yang mampu membayar zakat) yang enggan menunaikan zakat. Kontan seluruh peserta pun riuh mendengar paparan Prof Nasrun. DR Amelia Fauzia selaku Pembicara kedua meng-counter paparan Prof Nasrun dengan mengemukakan fakta sejarah Islam, bahwa pengelolaan zakat oleh negara bukanlah aturan baku dalam Islam. Mengacu pada hasil riset yang dilakukannya pada tahun 2007, negara-negara yang memberlakukan sentralisasi zakat seperti Pakistan, Malaysia dan sejumlah negara timur tengah tidak juga mendapatkan hasil maksimal. "Zakat itu kesadaran hati. Di Pakistan, dengan sistem debet rekening, pada tanggal pendebetan zakat, orang ramai-ramai mengosongkan rekeningnya. Sementara di Indonesia, dengan keadaan yang sudah berjalan, kesadaran berzakat sudah sangat luar biasa" tuturnya. Yusuf Wibisono yang menyoroti aspek ekonomi mengemukakan bahwa isu sentralisasi zakat tidak menguntungkan secara politik, alias kontraproduktif. Ditambah dengan efek hukuman, tentu akan semakin jauh dari harapan. Dia mencontohkan bahwa institusi pajak saja, dengan bingkai undang-undang yang kuat, masih belum mampu mengatasi kejahatan perpajakan. Dia merekomendasikan agar justru memberikan insentif dalam hal ini. Sesi kedua diisi oleh Azyumardi Azra, pakar keislaman dan mantan Penasihat Wapres Yusuf Kalla, serta Prof. Sofyan Syafri Harahap, Ketua IEF Trisakti. Menurut keduanya, dengan mental pegawai negeri sipil, Depag diperkirakan tidak akan mendapat banyak dukungan dengan isu yang diusungnya. Masyarakatpun menilai dan mengamati. Bahkan Azyumardi menegaskan, jika Depag men-sentralisasikan zakat, maka itu adalah bentuk kooptasi negara. Last Updated ( Wednesday, ۱۰ Rabi'ul Awal ۱٤۳۱ ۱٤:٥۷ )
|












